Desa Lanjuk

Wisata Religi Yang Terlupakan di Desa Lanjuk




Mungkin tidak semua orang tahu siapa itu jokotole, atau mungkin mereka hanya tahu entah dari nama jalan atau dari mana saja. Tetapi sebenarnya tahukah anda bahwa jokotole bagi masyarakat madura adalah sosok seorang pahlawan. Seorang pahlawan gagah berani yang terlahir dari keturunan raja-raja sumenep. Dan tahukah kamu dimana letak makamnya atau yang oleh masyarakat madura disebut “Asta”. Ternyata percaya atau tidak asta jokotole letaknya berada di kecamatan manding, tepatnya di desa lanjuk. Makam jokotole atau Asta Jokotole ini dapat ditempuh dengan akses jalan yang cukup mudah. Jika anda adalah peziarah yang berasal dari jawa maka jarak tempuh yang dibutuhkan adalah sekitar 4 jam dari kota Bangkalan menuju ke kota Sumenep. Akses jalan untuk dapat menuju ke kecamatan manding juga mudah. Namun, untuk sampai ke desa lanjuknya akan mengalami sedikit kesulitan jika anda menggunakan kendaraan seperti mobil atau bus mini, karena jalannya yang hanya dilewati 1 mobil. Di tambah lagi dengan kondisi jalannya yang sudah mulai rusak penuh lubang dan berbatu. Padahal dari pihak warga yang diwakili oleh kepala desa telah mengajukan permintaan untuk memperbaiki jalan, namun hal itu masih belum bisa terealisasi, dan tampaknya hal itu hanya akan menjadi khayalan atau impian warga lanjuk saja.  
Sebelumnya apakah kita semua tahu siapa jokotole itu? Ataukah kita mengetahui sejarahnya? Bagaimana kisah hidupnya? Dan bagaimana dengan kesaktiannya? Dalam hal ini kami telah menemui salah seorang sesepuh desa yang juga sekaligus juru kunci dari Asta tersebut. Beliau adalah H. Yasin, beliau bertempat disekitar asta sehingga jika ada para peziarah yang ingin berziarah dan ingin mengetahui sejarah singkat dari jokotole, dapat langsung menghubungi beliau. Namun, sayangnya beliau hanya dapat menceritakan sejarah tersebut dalam bahasa madura yang paling halus, sehingga tidak semua orang dapat menerjemahkan (bahkan kami sempat kesulitan dalam menerjemahkan :p). Beliau menceritakan bahwa jokotole adalah putra dari sorang putri keturunan bangsawan sumenep yang bernama putri saini dengan julukan Raden Ayu Poetre Koeneng (karena kecantikan dan kulitnya mengkilap). Diceritakan bahwa raden ayu yang merupakan keturunan raja bernama wagungrukyat yang bergelar raja saccadiningrat sedang melakukan tapa di gua payudan dengan ditemani oleh seorang dayang, tujuan sang putri bertapa adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pertapaannya, tepatnya pada hari ke tujuh atau tanggal 14, raden ayu tertidur dan bermimpi bahwa ia didatangi oleh seorang lelaki dan tidur dengannya. Lelaki itu bernama Adipoday (dikisahkan ada seorang pertapa yang bernama Panembangan Balinge mempunya putra yang bernama Adipoday dan Adirasa. Adipoday bertapa di gunung Geger dan Adirasa di ujung gelagah). Karena rasa kekhawatirannya yang terus-menerus memikirkan sosok laki-laki yang mendatangi dalam mimpinya, Raden Ayu Potre Koneng kemudian pulang.Tetapi semakin hari perutnya semakin besar hingga mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Mengetahui putrinya hamil namun tidak tahu siapa suaminya, sang raja menjadi murka bahkan beliau hendak menghukum mati sang putri akibat malu para raja yang lain mengetahui berita tersebut. Hingga sang putri diasingkan oleh para punggawa istana untuk menghaindari amarah sang raja. Saat di pengasingan, Raden Ayu Potre Koneng melahirkan bayinya, tepat pada tanggal 14 ia melahirkan bayi laki-laki yang elok, besih dan berseri-seri seperti wajah orang yang menghamilinya dalam mimpinya. Anehnya Raden Ayu Potre Koneng melahirkan tanpa mencucurkan darah setetespun dan tanpa ari-ari. Kelahiran bayinya justru membuat Raden Ayu Potre Koneng takut disangka berbuat tidak baik oleh kedua orang tua, maka dengan deraian air mata ia menyuruh dayang untuk membuang bayinya tadi. Namun, karena kuasa allah bayi itu ditemukan oleh seorang pandai besi yang bernama Empo Kelleng. Didalam asuhannya jokotole mahir dalam membuat kerajinan rumah tangga melebihi ayahnya, bahkan kerajinan yang dibuatnya memiliki kemampuan diluar akal manusia, seperti alat bajak yang dia buat mampu membuat tanah menjadi lebih subur. 
Saat dewasa, jokotole sanggup melaksanakan perintah yang bahkan mustahil bagi orang-orang yaitu membuat pintu gerbang majapahit. Dengan kesaktian yang dimiliki gerbang tersebut dapat didirikan dengan mudahnya, hingga membuat sang raja kagum dan memberikan hadiah yang banyak padanya. Sehingga sang raja menikahkan jokotole dengan putrinya dan menobatkannya sebagai patih dikerajaan majapahit. Hingga setelah beberapa tahun berada dinegeri orang, jokotole  telah menyenangkan hati sang raja dengan memenangkan beberapa pertempuran serta menjaga keamanan majapahit, kemudian jokotole merasa rindu dengan kampung halamannya sumenep dan terlebih bahwa patih di majapahit sangat membencinya, akhirnya setelah meminta ijin dan restu dari sang raja berangkatlah jokotole bersama istrinya. Selama perjalanan pulang dari majapahit ke sumenep jokotole dan istrinya sempat singgah di beberapa tempat dan memberikan nama disetiap wilayah yang mereka singgahi, seperti Banyocellep karena ditempat tersebut airnya dingin, desa sendang karena ketika jokotole menancapkan tongkatnya dan mencabutnya air pun keluar dan segera membentuk sendang. Kemudian jokotole melanjutkan perjalanan dan tiba di sumenep yang kemudian disambut oleh sang ibu Raden Ayu Poetre Koeneng karena telah lama tidak bertemu dengan anaknya. Hingga kemudian tak lama setelah itu, Jokotole dikaruniai dua orang anak yang pertama adalah Ario Wigananda dan yang kedua perempuan.Raja Saccadiningrat sudah semakin tua dan memutuskan untuk bersemedi, sehingga kekuasaan diserahkan pada Jokotole.Jokotole dinobatkan sebagai Pangeran Saccadiningrat II, akantetapi orang –orang lebih banyak memanggil Ario Kodapole atau Jokotole. Setelah diangkat menjadi raja, jokotole memimpin perang melawan musuh yang sangat tangguh karena telah berbuat keonaran. Setelah saling menggunakan kesaktian masing-masing, peperangan dimenangkan oleh jokotole. 
Saat memasuki masa tuanya, memperbanyak bersemedi, sehingga pemerintahan diserahkan pada putranya yaitu Ario Wigananda ,sedangkan Patihnya adalah Ario Banyak Modang putra dari Banyak Wedi. Jokotole tinggal disebuah rumah yang lengkap dengan tamannya yang terletak di desa lapataman, kecamatan dungklek kabupaten sumeneb. Selama menempati rumahnya itu dikabarkan Jokotole sakit, maka Ario Wigananda berniat mengajaknnya pulang ke kota Sumenep, awalnya menolak tetapi akhirnya mau juga. Jokotole berpesan bila nanti ia mati namanya ingin diabadikan sebagai nama Desa dan dimana pikulannya patah maka ia ingin dimakamkan disana. Diperjalanan Jokotole meninggal dan tempat itu dinamakan Batang-batang hingga sekarang.Kemudian jenazah dibawa kea rah gunung dan disana pikulannya patah. Maka disanalah ia dimakamkan. Sebelumnya tidak ditemukan air untuk mensucikan jenazah, tapi Ario Wigananda teringat dengan tongkat pemberian ayahnya, ia menancapkan tongakt itu maka munculah sumber mata air dan hingga sekarang yang terdapat di Desa Lanjuk Kampung Saasa. Begitulah secara singkat tentang sejarah pangeran jokotole yang merupakan raja sumenep yang dihormati oleh warga madura, yang juga merupakan arti kata desa lanjuk yang berarti “pikulan” dimana sang raja pernah berpesan bahwa jika pikulan yang dipakai untuk membawanya belum patah walaupun dia telah meninggal maka harus menunggu sampai pikulan tersebut patah dan disitulah dia akan dimakamkan. 



Previous
Next Post »